Kampus Gagasan Menggelar Bedah Buku ’Aksi Massa’, Fauzan: Membaca Arah Gerakan Perlawanan
Kampus Gagasan kembali
melaksanakan bedah buku #2. ”Aksi Massa”
karya Tan Malaka merupakan buku terpilih yang diulas oleh A. Fauzan Sabir Siradj
Munir A (Anggota kampus gagasan) sebagai pembedah secara dalam jaringan melalui Zoom pada Sabtu, 24
Januari 2025.
Diarmila, rektor Kampus
Gagasan membuka kegiatan dengan harapan bahwa bedah buku mampu menciptakan tradisi
intelektual yang mulai tergerus dewasa ini. Lebih Lanjut menerangkan bahwa bedah
buku merupakan bagian dari berliterasi yang berada setingkat lebih tinggi dari membaca
buku.
”Membaca buku bisa
dikategorikan kegiatan pasif yang menyerap informasi yang bermuara pada pembahaman
pembaca terhadap isi. Oleh karenanya, literasi tak boleh sebatas membaca buku melainkan
harus berlanjut pada bedah buku. Harapannya
tentu memantik terciptanya dialektika argumentatif dan terbuka yang menguji
gagasan pemikir dengan menghubungkan dengan realitas sosial yang dihadapi.”
Tegas Alumni Fakultas Hukum Unhas.
Menyoal keterhubungan
gagasan degan realitas sosial hari ini, aksi massa yang digagas Tan Malaka tentu
masih sangat relevan.
Fauzan nama sapaannya,
memaparkan bahwa aksi massa dan revolusi adalah dua hal yang pokok dalam buku tersebut.
Sebagaimana dalam bukunya bahwa Revolusi itu bukan sebuah ide yang luar biasa, juga bukan perintah seseorang serta hadiah
dari seseorang melainkan sebuah akibat historis dan pertentangan kelas yang
terus dibiarkan. Hal ini dapat dimaknai bahwa revolusi bisa lahir dimana saja
termasuk lahir dari aksi massa.
”Ketika suatu kelas
hidup dalam sebuah ekploitasi dan kelas lain menaanggung penderitaannya, maka dalam
kondisi ini revolusi bukan lagi sebagai pilihan moral namun hadir sebagai
konsekuensi sosial.” Jelas Direktur CV Sekawan Kreatif Indonesia.
Dalam relevansinya
hari ini, Tan Malaka menjelaskan maksud dari aksi massa dan lawannya yang
dinamai sebagai ’Putsch” untuk menggambarkan aktivitas yang terjadi di
masyarakat seperti unjuk rasa dan demonstrasi. Hal ini tentu menimbukn
pertanyaan apakah aktivitas tersebut merupakan aktivitas yang dapat disebut
aksi massa atau justru ”Putsch”
“Apabila gerakan dilakukan
secara terorganisir dan membawa tujuan universal maka itu disebut sebagai aksi
massa. Sebaliknya disebut ’Putsch’ jika hanya dipantik oleh segelintir orang,
gerakaannnya cepat dan emosional dan bukan berlandaskan perencanaan dan sistematis
maka tentu menjadi sebuah hal yang rapuh.” terang Mahasiswa Program Magister Administrasi
Publik Unhas
Indikator tersebut tentu harus dimaknai dan dijadikan dasar untuk membaca gerakan perlawanan hari ini. Sebab demokrasi telah terkontaminasi oleh kediktatoran dan kepentingan politik. Aksi massa tak boleh kehilangan makna dan identitasnya, sebab aksi massa adalah seni melawan ketidakadilan dalam mencapai kesejahtraan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar